RSS

Takbiratul ihram

23 Sep

بسم الله الرحمن الرحيم

NIAT

Niat adalah wajib. Tidak sah solat tanpa niat. Kewajiban niat adalah berdasarkan sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam; “Sesungguhnya segala amalan bergantung kepada niat. Sesungguhnya bagi setiap diri apa yang diniatkannya”. (Riwayat Imam Muslim dari Saidina ‘Umar–radhiyallahu ‘anhu-)

Namun niat yang diwajibkan ialah di dalam hati. Adapun melafazkan dengan lidah ada ulama berpandangan; bid’ah melafazkannya dengan lidah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- atau para sahabat. Begitupun tidak terdapat dalam hadits musi’ shalat ( hadits tentang rosulullah saw mengajari orang badwi yang tidak bisa melakukan shalat yang benar). Dan juga ditunjang dari beberapa hadits lainnya.  insyaallah pendapat yang lebih mendekati kebenaran.  Wallahu A’lam bishawab

TAKBIRATUL IHRAM

Adapun Tentang takbiratul ihram maka ini adalah termasuk dalam rukun shalat berdasarkan beberapa hadits Nabi saw, antara lain:

  • عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بِالتَّكْبِيرِ وَيَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  وَيَخْتِمُهَا بِالتَّسْلِيم
  • dari Aisyah berkata; “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan bertakbir, membuka bacaan dengan ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN (segala puji bagi Allah tuhan semesta alam), dan menutup shalatnya dengan salam.” )HR.Ahmad )

dari hadits ini dapat dipahami juga bahwasanya Rosulullah saw tidak mengucapkan sepatah kata pun sebelum melakukan shalat, seperti membaca basmalah, atau ta’awudz, atau mu’awwidzatain sebagaimana yang banyak dilakukan orang, dan termasuk tidak juga melafalkan niat. Semua pekerjaan ini adlah bid’ah , para ulama sepakat hal itu tidak ada sandarannya dari kitab dan sunnah, tidak ada satu kabarpun diriwayatkan dari sahabat, tidak pula tabi’in dan bahkan tidak pula imam yang empat.

  • عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
  • dari Ali radliallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.” ( HR. Abu Dawud, ibnu Majah, Tirmidzi )

menurut imam Tirmidzi hadits ini adalah hadits yang baik dalam bab ini. Hadits ini menyatakan bahwa suci dari hadats adalah syarat sah shalat dan bahwa permulaan shalat hanyalah dengan takbiratul ihram tidak dengan yang lain.

  • أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ
  • Abu Humaid As Sa’idi berkata; “Jika akan mendirikan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, lalu beliau mengucapkan: “ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar).”  ( HR. Ibnu majah )
  • إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ
  • ‘Apabila kamu mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah’.”( HR.MUSLIM )

Terang dan nyata  bahwa hadits ini menerangkan bahwasanya permulaan shalat ialah dengan membaca “Allahu Akbar”. Dengan takbirlah Nabi saw memulai shalat.  Sebagaimana juga dari hadits-hadits yang lain, kita ketahui bahwa Nabi saw tidak pernah memulai shalat dengan “Nawaitu Ushalli” yakni Nabi tidak pernah membaca lafzh niat.

Waktu Mengangkat Tangan Ketika Takbir

Menurut riwayat yang shahih, ada 3 cara saat menganggkat tangan ketika takbiratul ihram.

1.  mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbir

  • عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ
    • dari Malik bin al-Huwairits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertakbir maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, dan apabila rukuk maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk seraya mengucapkan, ‘Semoga Allah mendengarkan orang yang memujiNya’, maka beliau melakukan seperti itu.” ( HR.muslim )
    • أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
      • Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. ( HR. Bukhari )

Ulama –ulama syafi’iyyah berpegang pada hadits-hadits yang menyunatkan mengangkat tangan bersamaan dengan  takbir ini. Pentarjihan ulama – ulama syafi’iyyah ini disetujui oleh ulama-ulama malikiyyah

2.   Mengangkat Tangan Terlebih Dahulu, Baru Kemudian Mengucapkan Takbir

  • أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ
  • Ibnu Umar berkata, “Rasululllah apabila mendirikan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga menjadi sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian bertakbir ( HR. Muslim )

Cara ini menurut ulama Hanafiah adalah yang paling baik. Alasannya ialah mengangkat kedua tangan itu merupakan simbol untuk meniadakan sifat-sifat kebesaran kepada selain Allah. Sedangkan takbir itu sendiri merupakan pengukuhan akan kebesaran Allah. Peniadaan harus didahulukan daripada pengukuhan seperti dalam kalimat “syahadat”. (Lihat Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fatkhul Bari, (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1379 H), juz 2, h.218).

3.   Mengucapkan Takbir Terlebih Dahulu, Baru Kemudian Mengangkat Kedua Tangan

  • عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ أَنَّهُ رَأَى مَالِكَ بْنَ الْحُوَيْرِثِ إِذَا صَلَّى كَبَّرَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ هَكَذَا
  • dari Khalid dari Abu Qilabah bahwa dia melihat Malik bin al-Huwairits apabila shalat maka dia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya, dan apabila berkehendak untuk rukuk maka dia mengangkat kedua tangannya, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk maka dia mengangkat kedua tangannya, dan dia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu melakukan hal tersebut. ( HR. Muslim )

Tentang cara yang ketiga ini, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Saya tidak pernah menjumpai ulama yang berpendapat bahwa takbir itu didahulukan daripada mengangkat tangan.” (Lihat Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fatkhul Bari, (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1379 H), juz 2, h.218).

Hadits-hadits yang disepakati shahihnya oleh ulama-ulama ahli hadits, hanyalah hadits –haddits yang menerangkan bahwa nabi menganngkat tangan di empat tempat:

  1. disaat takbiratul ihram
  2. disaat hendak ruku’
  3. disaat bangun dari ruku’ (I’tida
  4. disaat bangkit dari rakaat kedua ke rakaat ketiga.       Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu- menceritakan; “Adalah Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam- apabila beliau bangun selepas (selesai) dua rakaat, beliau akan bertakbir dan mengangkat dua tangannya” (Riwayat Imam Abu Daud).

Posisi Kedua Tangan Ketika Takbir

1. Kedua Tangan Sejajar Bahu

  • أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
    • Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. ( HR. Bukhari )
    • أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ
      • Ibnu Umar berkata, “Rasululllah apabila mendirikan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga menjadi sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian bertakbir ( HR. Muslim )

2 .   Kedua Tangan Sejajar Telinga

  • عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ
  • dari Malik bin al-Huwairits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertakbir maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya  ( HR. Muslim )
  • عَنْ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ
  • dari Abdul Jabbar bin Wa’il dari Bapaknya dia berkata; “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alihiwasallam dan beliau mengawali shalatnya dengan mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua telinganya (HR. Nasa’I )

Membuka &  Meluruskan  Jari-Jemari Tangan Ketika Takbir

  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari-jarinya lurus ke atas –tidak merenggangkannya dan tidak pula menggengamnya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Tamam dan Hakim).
  • Dari Abu Hurairah: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak melakukan shalat, beliau mengangkat tangannya sambil mengembangkan (jemarinya).” (HR. al-Khamsah kecuali Ibnu Majah).

Wallahu A’lam bishawab

 
Comments Off on Takbiratul ihram

Posted by on 23/09/2011 in shalat

 

Tags:

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: