RSS

Keutamaan ilmu dan Ahlinya

10 Oct

بسم الله الرحمن الرحيم

keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang berilmu.

  • Firman Allah Swt:

وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَآءِ هَؤُلآءِ إِن كُنتُم صَادِقِينَ {} قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {} قَالَ يَآءَادَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّآ أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!” Mereka menjawab:”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Alloh berfirman:”Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Alloh berfirman:”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” (QS. Al Baqarah : 31-33)

di dalam ayat ini menunjukkan akan keutamaan ilmu dan keutamaan orangnya, dan di dalam hadits disebutkan:

وَإِنَّ المَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهاَ رِضاً لِطاَلِبِ العِلْمِ

“Dan sesungguhnya para malaikat akan menurunkan sayapnya dengan ridha kepada penuntut ilmu”

… artinya tunduk dan bertawadhu’, dan sesungguhnya para malaikat berbuat seperti itu khusus hanya kepada Ahlul ilmi diantara para makhluk Alloh Swt, karena Alloh Swt telah melazimi hal itu bagi Adam Alaihis Salaam sehingga dia beradab dengan adab ini. setiap nampak suatu ilmu pada diri manusia maka para malaikat semakin tunduk dan merendahkan diri serta menghinakan diri sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu dan orangnya, dan ridha terhadap mereka di dalam mencarinya dan menekuninya. Ini bagi para penuntut ilmu lalu bagaimana dengan para ulama’ mereka dan Rabbaniyyin diantara mereka? semoga Alloh menjadikan kita termasuk diantara mereka dan masuk di dalam golongannya, sesungguhnya Alloh memiliki keutamaan yang besar) (Tafsir Al Qurthubi I/288-289).

  • Firman Alloh Swt:

وَأَنزَلَ اللهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan (juga karena) Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Alloh sangat besar atasmu” (QS. An Nisaa’ : 113).

        Ayat ini menunjukkan akan keutamaan ilmu menurut nashnya (konteksnya), karena firman Alloh Swt <Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui> dan Alloh mensifati ilmu ini dengan keutamaan yang besar maka Alloh Swt berfirman < Dan adalah karunia Alloh sangat besar atasmu>.

  • Firman Alloh Swt:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah:”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha : 114).

        Al Bukhaari menyebutkan di dalam bab (Fadhlul ilmi) (Keutamaan ilmu) pada awal kitab Al Ilmu dari Shahihnya, Ibnu Hajar berkata: (Firman Alloh <dan katakanlah:”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan>: Merupakan penunjukan dalil yang jelas tentang keutamaan ilmu, karena Alloh Swt tidak menyuruh NabiNya dengan meminta untuk ditambah dengan susuatu kecuali dari ilmu, dan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah ilmu syar’iy yang memberikan manfaat untuk dapat memahami perkara-perkara yang wajib dari agamanya di dalam ibadah dan mu’amalahnya, dan berilmu tentang Alloh dan sifatNya dan hal-hal yang wajib untuk ditegakkan perintahnya, membersihkannya dari kekurangan-kekurangan, dan semua hal itu terdapat diseputar ilmu tafsir, hadits dan fiqh) (Fat-hul Baari I/141).

  • Firman Alloh Swt:

فوجد عبدا من عبادنآ ءاتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما {} قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمن مما علمت رشدا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. () Musa berkata kepada Khidhr:”Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” (QS. Al Kahfi : 65-66).

        Ayat ini berkenaan dengan Musa dan Khidir Alaihimas Salaam, dan ayat ini menyerupai ayat sebelumnya pada Nabi kita Muhammad Saw <dan katakanlah:”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan> disini Musa juga meminta tambahan ilmu dan berusaha demi untuk mendapatkannya dan mencarinya walaupun dari orang yang lebih sedikit kemuliaannya.

        Dan sabda Rosululloh Saw:

بَيْنَماَ مُوسَى فِي مَلَأِ مِن بَنِى إِسْراَئِيلِ إِذ جاَءَهُ رَجُلٌ فَقاَلَ: هَل تَعْلَمُ أَحَداً أَعْلَمُ مِنكَ؟ قاَلَ مُوسَى: لاَ, فَأَوحَى اللهُ إِلَى مُوسَى: بَلَى, عَبْدُناَ خَضِر, فَسَأَلَ مُوسَى السَّبِيلَ إِلَيهِ, فَجَعَلَ اللهَ لَهُ الحُوتَ آيَةً, وَقِيلَ لَهُ: إِذاَ فَقَدْتَ الحُوتَ فاَرْجِعْ فَإِنَّكَ سَتَلْقاَهُ وَكاَنَ يَتَّبِعُ أَثَرُ الحُوتَ فِي البَحْرِ, فَقاَلَ لِمُوسَى فَتاَهُ: أَرَأَيْتَ إِذاَ أَوَيناَ إِلَى الصَخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيْتُ الحُوتَ وَماَأَنْساَنِيهُ إِلاَّ الشَيْطاَنَ أَن أَذْكُرَهُ, قاَلَ: كَذَلِكَ ماَ كُنَّا نَبْغِى, فاَرْتَداَ عَلَى آثاَرِهِماَ قَصَصاً, فَوَجَدَ خَضِراً, فَكاَنَ مِن شَأْنِهِماَ الذِّي قَصَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتاَبِهِ

“Ketika Musa bersama pembesar Bani Israail ketika itu datang seseorang dan berkata: Apakah kamu tahu ada seseorang yang lebih tahu dari kamu? Musa berkata: Tidak! Maka Alloh mewahyukan kepada Musa: Ya! Yaitu hamba kami Khadhir, maka musa meminta jalan menuju kepadanya, lalu Alloh menjadikan baginya ikan hiu sebagai tanda, lalu dikatakan kepadanya: Jika ikan hiu telah menghilang maka pulanglah nanti kamu akan bertemu dengannya, lalu dia mengikuti jejak-jejak ikan hiu di laut, maka berkatalah muridnya kepada musa: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali, Musa berkata:”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, lalu keduanya mendapati Khidir, keduanya telah diceritakan oleh Alloh Swt di dalam KitabNya) (Hadits Riwayat Al Bukhaari no. 74).

        Ini adalah penggunaan dalil yang paling jelas tentang keutamaan ilmu karena Musa berusaha untuk mencarinya padahal dia termasuk dari para ulul azmi diantara para Rosul untuk mendapatkan ilmu walaupun dari orang yang lebih sedikit keutamaannya yaitu Khidir, sedangkan tentang adanya tingkatan keutamaan dari keduanya Ibnu Hajar berkata: (Khidir walaupun juga seorang nabi namun bukan seorang Rosul menurut ijma’ (kesepakatan), dan para Rosul lebih utama dari pada para Nabi yang bukan Rosul, walaupun kita dudukkan bahwa dia sebagai Rosul maka Risalah Musa lebih besar dan umatnya lebih banyak, sehingga dia yang lebih utama, dan tujuan khidir seperti salah satu para nabi dari bani israil dan musa adalah lebih utama daripada mereka, dan jika kami katakan khidir itu bukan seorang nabi namun dia adalah seorang wali, maka nabi lebih utama daripada wali dan itu adalah perkara yang sudah jelas menurut akal maupun menurut naql (Al Qur-aan dan As Sunnah) dan orang yang tetap menyelisihinya adalah kafir karena itu adalah perkara yang sudah diketahui oleh syareat secara pasti) (Fat-hul Baari I/221).

  • Firman Alloh Swt:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali Imraan : 18).

        Ibnul Qayyim Rh berkata — tentang ayat ini — (Alloh mengambil kesaksian dengan orang yang memiliki ilmu dengan kesaksian yang paling jelas yaitu dengan tauhidnya, sehingga Dia berkata <Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan, Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)> ini menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang-orangnya menurut beberapa segi, pertama: kesaksian bagi mereka yang tidak ada kesaksian kepada selain mereka dari para manusia, kedua: keterkaitan kesaksian mereka dengan kesaksian Alloh, ketiga: keterkaitannya dengan kesaksian para malaikat, keempat: sesungguhanya jaminan dari hal ini adalah kesucian dan keadilan mereka, karena sesungguhnya Alloh tidak mengambil kesaksian dari para makhluknya kecuali yang adil, diantaranya juga terdapat atsar yang sudah diketahui dari Nabi Saw:

يَحْمِلُ هَذاَ العِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفِ عُدُوْلِهِ, يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغاَلِيْنَ وَانْتِحاَلِ المُبْطِلِينَ وَتأْوِيْلِ الجاَهِلِينَ

“Sesungguhnya yang mengemban ilmu ini adalah orang-orang yang adil, dengannya mereka menghilangkan penyelewengan-penyelewengan orang-orang yang extrimis, pendapat orang-orang yang menyeleweng dan takwilnya orang-orang yang bodoh”

— hingga dia berkata — : keenam: sesungguhnya Alloh mengambil kesaksian oleh dirinya sendiri dan itu adalah orang yang paling besar kesaksiannya kemudian dengan makhluk-makhluknya yang paling baik kemudian para malaikat dan para ulama’ dari hamba-hambanya, dan cukuplah ini merupakan keutamaan dan kemuliaan). (Miftaahu Daarus Sa’aadah, hal. 48-49). Oleh Ibnul Qayyim Rh.

        Al Qurthubi rhm berkata: (Dalam ayat ini menunjukkan akan keutamaan ilmu dan kemuliaan para ulama’ serta keutamaan mereka, sesungguhnya jika ada seseorang yang lebih utama dari pada ulama’ pasti Alloh akan menghubungkan (mengkaitkan) dengan namaNya dan nama para malaikatNya sebagaiamana Alloh mengkaitkan nama para ulama’ dengan namaNya) (Tafsir Al Qurthubi IV/41).

يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

“Katakanlah:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az Zumar : 9).

        Ibnul Qayyim Rh berkata: Sesungguhnya Alloh Swt menafyikan adanya persamaan antara ahlilllah (keluarga Alloh) dengan selain mereka sebagaimana menafyikan (menghilangkan) persamaan antara penghuni surga dengan penghuni neraka, maka Alloh Swt berfirman: <Tidak sama antara para penghuni neraka dengan para penghuni surga> ini menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka yang tertinggi) (Miftaahu Daarus Sa’aadah, hal. 49).

  • Firman Alloh Swt:

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ

“Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (QS. Ar Ra’du : 19).

        Ibnul Qayyim Rh berkata: (Sesungguhnya Alloh menjadikan orang-orang yang bodoh itu kedudukannya seperti orang buta yang tidak dapat melihat <Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta> maka disana tidak ada kelompok lain kecuali orang yang berilmu atau orang yang buta, dan Alloh telah mensifati orang yang bodoh bahwa mereka itu bisu, tuli, dan buta di beberapa tempat di dalam KitabNya). (Miftaahu Daarus Sa’aadah, hal. 49).

  • Firman Alloh Swt:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy Syuura : 52).

        Maka Alloh mensifati apa yang telah Alloh wahyukan kepada nabiNya dengan sifat cahaya, yaitu Alloh telah mewahyukan ilmu kepadanya, sebagaimana firman Alloh Swt:

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَاجَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu)” (QS. Ali Imraan : 61)

Jadi setiap kali bertambah jumlah ilmu seorang hamba maka bertambah pula jumlah cahaya petunjuk pada dirinya yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil, Alloh Swt berfirman:

أَوَمَنْ كاَنَ مَيْتاً فَأَحْيَيْناَهُ وَجَعَلْناَ لَهُ نُوْراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلَهُ فِي الظُلُماَتِ لَيْسَ بِخاَرِجٍ مِنْهاَ كَذَالِكَ زُيِّنَ لِلْكاَفِرِيْنَ ماَ كاَنُوا يَعْمَلُوْنَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya” (QS. Al An’aam : 122).

Ini semua adalah tentang ilmu yang bermanfaat yang memotivasi seseorang untuk merasa takut (khasyah) dan takwa, Alloh Swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para Rosul), bertaqwalah kepada Alloh dan berimanlah kepada Rosul-Nya, niscaya Alloh memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami.Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hadiid : 28).

  • Firman Alloh Swt:

قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَانٍ بِهَذَآ أَتَقُولُونَ عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُونَ

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata:”Allah mempunyai anak”. Maha Suci Alloh; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Yunus : 68).

        Allah mensifati ilmu dan hujjah di dalam ayat ini dengan As Sulthaan (keterangan), maka Alloh meminta kepada orang kafir dengan hujjah tentang apa yang telah mereka dakwakan (pengakuan mereka) < Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini>, dan Alloh Swt mengingkari pengakuan mereka yang tanpa ilmu, <Pantaskah kamu mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui>.

        Ayat yang serupa dengan ayat ini adalah firman Alloh Swt:

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَآءَ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّانَزَّلَ اللهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُم مِّنَ الْمُنْتَظِرِينَ

“Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Alloh sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu” (QS. Al A’raaf : 71).

Juga firman Alloh Swt:

هَاؤُلآءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ ءَالِهَةً لَّوْلاَ يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Alloh” (QS. Al Kahfi : 15).

Juga firman Alloh Swt:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَالَيْسَ لَهُم بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

“Dan mereka menyembah selain Alloh, apa yang telah Alloh tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya” (QS. Al Haj : 71).

Dan firman Alloh Swt:

أَلآ إِنَّهُم مِّنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ {} وَلَدَ اللهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ {} أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ {} مَالَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ {} أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ {} أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُّبِينٌ {} فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: () “Alloh beranak”.Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. () Apakah Dia memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki () Apakah yang terjadi padamu Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? () Maka apakah kamu tidak memikirkan? () Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata () Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Ash Shaafaat : 151-157).

Semua ayat ini menunjukkan bahwa As Sulthaan artinya adalah ilmu dan hujjah dan Alloh mencela orang-orang musyrik di dalam kesyirikan mereka tanpa adanya hujjah dan Alloh meminta hujjah kepada mereka tentang apa yang telah mereka akui.

(Tambahan) disebutkan kata-kata As Sulthan di dalam Al Qur-aan yang mengandung dua makna, salah satunya: yang artinya ilmu dan hujjah sebagaimana firman Alloh Swt pada ayat-ayat diatas, kedua: yang bermakna kekuatan dan pemaksaan sebagaimana firman Alloh Swt:

وَاجْعَلْ لِي مِن لَدُنْكَ سُلْطاَناً نَصِيْراً

“dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS. Al Israa’ : 80),

Juga firman Alloh Swt:

وَمَن قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلَناَ لِوَلِيِّهِ سُلْطاَناً

“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya” (QS. Al Israa’ : 33).

Namun kebanyakan apa yang disebutkan di dalam Al Qur-aan artinya adalah yang pertama yaitu al hujjah, namun kedua makna itu bersumber dari satu makna, keduanya pecahan kata dari As Salaathah dan artinya adalah kemantapan yang berupa pemaksaan dan kadang-kadang pemaksaan itu dengan hujjah dan kadang-kadang dengan kekuatan materi. Lihat di dalam kitab (Al Mufradaat, hal. 238) karangan Al Ashfaahani.

        Ibnul Qayyim Rh berkata: (Maksudnya adalah bahwa Alloh Swt menamakan ilmul hujjah dengan Sulthaan karena menharuskan pemiliknya untuk menguasai ilmu itu dan kemampuannya di dalam menguasai orang-orang yang bodoh, bahkan kekuasaan ilmu itu lebih besar dari pada kekuasaan tangan, untuk itu manusia diselamatkan oleh hujjah yang tidak bisa diselamatkan oleh tangan, sesungguhnya hujjah dapat menyelamatkan hati sedangkan tangan hanya menyelamatkan badan saja, maka hujjah dapat menawan hati, mengikatnya dan menghinakan orang yang menyelisihinya, jika nampak pembangkangan dan kesombongan maka hatinya dapat tunduk dengan hujjah tersebut, tertekan dibawah kekuasaannya. Bahkan kekuasaan kehormatan jika dia tidak memiliki ilmu yang mengaturnya maka kedudukannya seperti kekuasaan binatang buas, singa dan yang semisalnya yang memiliki kekuatan tanpa ilmu, tanpa rahmat (kasih sayang), yang jelas berbeda dengan kekuasaan hujjah karena sesungguhnya dia memiliki kekuatan yang disertai dengan ilmu dan kasih sayang serta hikmah) (Miftaahu Daarus Sa’aadah I/59).

        Karena ilmu adalah kekuasaan maka orang yang memiliki ilmu (ulama’) mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan yang sebenarnya dan memiliki kepemimpinan yang hakiki bagi manusia, Abul Aswad Duwali berkata (Tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, para raja itu penguasa bagi manusia sedangkan para ulama’ adalah penguasa bagi para raja) (Ihyaa’ Uluumud Diin I/18).

  • Termasuk keutamaan ilmu adalah bahwa keutamaannya bukan hanya pada manusia tapi juga melampai batas sampai pada binatang (hewan-hewan), maka Alloh tidak menyamakan antara anjing yang alim (pintar) dengan anjing yang bodoh sebagaimana juga tidak menyamakan antara orang yang alim dengan orang yang bodoh dari kalangan manusia, keterangan akan hal itu terdapat pada perkataan Ibnul Qayyim Rh: (Sesungguhnya Alloh menjadikan hasil buruan anjing yang bodoh adalah bangkai yang haram untuk dimakan namun dibolehkan hasil buruan anjing yang pintar (diajari), ini juga termasuk daripada kemuliaan ilmu bahwa tidak dibolehkan kecuali hasil buruan anjing yang pintar (diajari) sedangkan anjing yang bodoh maka tidak beloh memakan buruannya, maka ini menunjukkan akan keutamaan ilmu dan kemuliaannya. Alloh Swt berfirman:

يَسْئَلُونَكَ مَاذَآأُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِّمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu:”Apakah yang dihalalkan bagi mereka”. Katakanlah:”Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang-binatang buas yang telah kamu ajarkan dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Alloh kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Alloh atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertaqwalah kepada Alloh sesungguhnya Alloh amat cepat hisab-Nya” (QS. Al Maa-idah : 4).

Dan jika bukan karena kelebihan ilmu dan pengajaran serta kemuliaan keduanya maka hasil buruan anjing yang pintar (diajari) dengan anjing yang bodoh hukumnya adalah sama) (Miftaahu Daarus Sa’aadah I/55).

                Inilah beberapa dalil-dalil dari Kitabullah tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang memiliki ilmu

 
Comments Off on Keutamaan ilmu dan Ahlinya

Posted by on 10/10/2011 in lepas, manhaj

 

Tags: ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: