RSS

Mana yang Lebih Utama Mati Syahid atau Tamkin ?

21 Mar

Oleh Abu Kholwa

Seorang ansor dan muhajirin[2] duduk-duduk mendiskusikan kitabullah dan ayat-ayat Jihad. Mereka saling mendorong untuk berjihad dijalan Allah. Mereka mengutip ayat:

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ﴿٥٢﴾

Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”. (QS. 9:52)

Sang muhajirin kemudian berhenti pada kalimat (salah satu dari dua kebaikan) kemudian sang ansor berkata: yakni antara tamkin atau mati syahid.

Muhajirin kemudian bertanya: Tamkin atau mati syahid?

Ansor menjawab: Ya, tamkin atau mati syahid.

Muhajirin bertanya: Manakah yang lebih baik bagi mujahid,  tamkin ataukah mati syahid?

Ansor lalu menjawab: Wahai saudaraku, tidakah engkau mendengar ayat:

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ﴿٤١﴾

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. 22:41)? Semua ini dapat ditunaikan dimuka bumi  dengan sempurna hanya ketika ada kemenangan terhadap musuh-musuh agama.

Muhajirin berkata: Benar saudaraku, namun bukankah Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴿١٠﴾ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴿١١﴾يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴿١٢﴾وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ﴿١٣﴾

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

 

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

 

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.  [QS. 61: 10-13].

Jadi ketika Allah menunjukan nikmat-nikmatnya yang telah disediakannya kepada orang-orang yang beriman dan menyebutnya “kemenangan yang agung” dia berfirman “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai”: (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Jadi Allah menyebutnya “yang lainnya”.

Ansor berkata: Saudaraku, tamkin dan kemenangan berarti  mengalahkan musuh-musuh agama dan kemudian berkuasa menegakkan syari’ah.

Muhajirin berkata: Bukankah mati syahid adalah suatu tamkin dan kemenangan untuk keimanan?

Ansor berkata: Mari kita kembali ke kitabullah dan mendapat sebuah jawaban dari pertanyaan ini.

Muhajirin berkata: Ya, mari kita tengok. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. [QS. 4: 59].

Ansor berkata:  Saudaraku, Allah telah menciptakan Adam a.s.  menempatkannya di bumi ini serta memerintahkannya untuk membangunnya. Adam a.s. dan keturunannya hidup selama sepuluh abad mengikuti agama Allah dan kemudian hal-hal berubah dan kaumnya  menjadi  orang-orang yang tidak beriman. Allah mengutus rasul-rasulNya dan yang pertama diutusnya yakni Nuh a.s. Allah memerintahkannya  untuk mengajarkan keesaan Allah.  Nuh bersama mereka selama beberapa ratus tahun namun hanya sedikit yang beriman. Ketika beliau melihat tidak ada lagi kebaikan pada umatnya , beliau berdoa kepada Allah untuk menghancurkan mereka dan Allah mengirimkan banjir yang menenggelamkan orang-orang yang tidak beriman sedangkan yang beriman diselamatkan. Dengan setiap rasulnya , Allah akan memberinya  beserta pengikutnya kemenangan sedangkan bagi mereka yang tidak beriman dihancurkan. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. [QS. 37: 171-172].

Allah menghukum kaum ‘Aād, Thamūd, Aykah, Luth, dan kemudian Firaun dihancurkan dan Allah memberikan Kemenangan kepada Musa a.s.  beserta bani Israil. Allah tidak menghancurkan orang-orang yang tidak beriman setelah Firaun  namun membuat hukumannya melalui tangan-tangan orang yang beriman yang diperintahkan untuk berjihad sebagaiman Allah berfirman:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ﴿١٤﴾

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. ( QS. 9;14)

Muhajirin  berkata: hal ini tidak kemudian berarti bahwa kemenangan lebih baik daripada mati syahid bagi mujahid.  Ini  merupakan status tinggi yang diberikan kepada seorang manusia untuk menyerahkan kehidupannya, yakni semua yang berharga baginya, dikorbankan dijalan Allah. Allah telah membeli jiwa dan harta mereka ditukarkan dengan surga. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.  [ QS. 9:111].

Dan kita tidak boleh melupakan Rasulullah saw ketika dia bersabda: “Telah di  perlihatkan kepadaku berbagai kaum dan aku melihat seorang nabi dengan sekelompok kecil  pengikut, seorang nabi dengan satu atau dua pengikut, dan seorang nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali”.[3]

Ada banyak nabi-nabi yang terbunuh oleh kaumnya, jadi bisakah seorang muslim mengatakan mereka belum mendapatkan tamkin?  Mereka mendapatkan kemenangan karena keimanan mereka dan kerja keras mereka untuk memperoleh kemenangan. Jika seluruh mujahidin habis terbunuh dijalan Allah,  hal tersebut tidak dapat dikatangan sebagai sebuah kekalahan karena mereka telah melakukan kewajibannya dan Allah akan, tanpa ragu lagi, memberikan kemenangan terhadap agamanya, dan darah para syuhada akan digantikan oleh orang-orang setelahnya.

Imam Muslim, al-Tirmizi dan yang lainya meriwayatkan kisah suatu kaum. Dalam riwayat tersebut ada seorang pemuda yang sedang belajar kepada penyihir dan imam dan diakhiri dengan mengikuti sang imam. Ketika raja ingin membunuhnya, pemuda tersebut berkata kepada sang raja: engkau tidak dapat membunuhku sampai engkau mengatakan saat menyerangku: “ Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak laki-laki ini.” Ketika sang raja melakukannya , pemuda tersebut terbunuh namun orang yang menyaksikan kematiannya kemudian beriman dan berkata: “kami beriman kepada Rabb pemuda ini.” Allah membuat kematian pemuda ini sebagai alasan berimannya kaum tersebut. Jadi, bisakah kita mengatakan bahwa pemuda tersebut tidak mendapatkan kemenangan? Tidak sama sekali.  Dia merupakan pemenang karena dakwah kepada kaum tersebut berhasil dan mereka kemudian beriman. Jadi seorang mujahid mesti memiliki keinginan untuk bisa menjadi seorang syuhada. Dia semestinya memimpikan kesyahidan apakah dia seorang pemimpin atau pengikut, apapun posisinya, dan tidak perlu mencemaskan dirinya sendiri akan kemenangan karena suatu kemenangan itu berasal dari Allah dan memberikannya kepada hamba-hambaNya yang memintanya.

Ansor berkata: Kemudian apa manfaat I’dad untuk melawan musuh jika seseorang mesti bercita-cita mati di jalan Allah.

Muhajirin menjawab: Saya tidak bermaksud mengenyampingkan I’dad, karena kenyataannya perkara tersebut merupakan sebuah tugas dan kewajiban seorang Mujahid. Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. [ QS. 8: 60].

Namun mujahid semestinya diajarkan tafsir ayat tersebut sebagaimana Rasulullah saw mengajarkannya kepada sahabat-sahabatnya.

Ansor berkata: Bisakah tunjukan aku beberapa contoh dari hadits Rasululah saw.

Muhajirin  berkata: Baiklah, Pertama: Ketika Rasulullah mengambil sumpah dari para ansor, mereka bertanya” Apa yang mesti kami ikrarkan?” Beliau bersabda : “ Kalian berikrar untuk mendengar dan menaati baik dalam keadaan siaga atau yang lain, dan membelanjakan hartamu apakah engkau kaya ataupun miskin, dan  beramal ma’ruf dan nahi mungkar, berbicara atas nama Allah, dan tidak takut celaan orang yang suka mencela, dan memberikanku bantuan jika aku datang kepadamu dan melindungiku sebagaimana engkau melindungi dirimu sendiri dan istri-istrimu dan anak-anakmu. Dengan pertukaran ini engkau akan menerima surga.”

Rasulullah saw dalam menukarkan apa yang belau minta dari para ansor tidak menjanjikan apapun dari dunia ini. Beliau menjajikan mereka dengan surga dan surga hanya akan datang setelah kematian. Jadi apakah engkau akan mati sebagaimana kematian pada umumnya dari pada mati sebagai seorang syuhada?

Kedua:  Allah telah menjanjikan kemenangan kepada Rasullulah saw pada perang Badar tatkala melawan kafilah dagang ataupun pasukan musuh. Allah berfirman:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu. [QS. 8: 7].

Ketika Rasulullah saw melihat para malaikat sebelum peperangan, beliau berkata kepada para sahabat: “Majulah ke surga yang lebih luas daripada langit dan bumi.”  Beliau tidak berkata: “Majulah ke kemenangan walaupun Allah telah menjanjikan mereka  tamkin.

Jadi mujahid harus  terlatih  mencintai kematian, surga dan ampunan Allah tetapi diingat bahwa kemenangan berasal dari Allah yang  dianugrahkan kepada siapapun yang kehendakiNya. Para sahabat Rasululllah saw memahami makna ini  dan apa yang harus mereka amalkan. Ketika  Abu Bakar r.a.  sedang mengirimkan pasukannya beliau berkata: Carilah kematian karena kehidupan akan diberikan kepadamu.”

Khalid ibn Al- Walid r.a. pernah  mengirim surat kepada para pemimpin Persia dan mengancam mereka dengan mengatakan: “ Dari Khalid ibn Al- Walid kepada pimpinan-pimpinan Persia,  semoga damai kepada orang-orang yang mengikuti petujuk-Nya.  Segala puji bagi Allah yang melepaskan kalian dari kerajaan kalian, melemahkan kalian, membagi kalian, dan menyingkirkan kalian dari pelayanan yang telah kalian dapatakn.  Terima persyaratanku dan bayar Jizya, apabila tidak, atas nama Allah yang tidak ada yang berhak disembah selainya, saya akan menyerangmu dengan orang-orang  yang mencintai kematian sebagaimana kalian  mencintai kehidupan.”

Beginilah para sahabat Rasulullah saw. Mereka mencintai kematian di jalan Allah sehingga Allah memberikan mereka kemenangan di dunia ini. Jadi, mencintai kesyahidan di jalan Allah, walaupun itu sendiri merupakan pencapaian yang luar biasa, merupakan gerbang menuju kemenangan di dunia ini, karena siapa yang mampu menghadapi kaum yang mencintai kematian sebagaimana yang lainnya mencintai  kehidupan?

Ansor berkata: Demi  Allah saya tidak mengetahui perbedaan yang sangat besar di antara dua perkara yang telah disebutkan dalam ayat tersebut. Saya hanya berpikir bahwa mati syahid lebih baik dari kemenangan , kenyataannya, itulah hakekat kemenangan.

Muhajirin  berkata: Suri tauladan kita Rasulullah saw tatkala beliau merindu kesyahidan walaupun ia merupakan manusia yang mulia. Beliau bersabda: “ demi Allah yang jiwaku ada ditangannya, saya ingin berperang di jalan Allah dan terbunuh dan kemudian berperang dan terbunuh dan kemudian berperang dan terbunuh.”[4]

Jadi siapa diantara kita yang ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda dari keinginan manusia yang paling mulia saw yang ingin medapatkannya sebanyak tiga kali, walaupun beliau pemilik status tertinggi di surga?

Ya Allah anugerahi kami kesyahidan dan ambilah dari darah, kekayaan, dan waktu kami hinga engkau senang.

Ansor berkata: Amin


[1]           Tamkin adalah berkuasa di bumi dan tegaknya syareat Islam

[2]           Muhajirin adalah seseorang yang berhijrah dijalan Allah untuk agamanya. Ansor adalah seseorang yang memberikan bantuan perlindungan/ tempat tinggal terhadap muhajirin di muka bumi.

[3]           Diriwayatkan oleh Muslim

[4]           Diriwayatkan oleh Bukhori

 
2 Comments

Posted by on 21/03/2012 in Daulah, Jihad, lepas

 

2 responses to “Mana yang Lebih Utama Mati Syahid atau Tamkin ?

  1. abufathiyyah

    12/05/2012 at 3:04 AM

    tetap semangat…

     
  2. abufathiyyah

    12/05/2012 at 2:58 AM

    assalam..

    ditunggu post terbarunya rek..
    ini blog ana yang dulu, uda bisa login lagi

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: