RSS

Category Archives: shalat

Do’a iftitah

بسم الله الرحمن الرحيم

Do’a istiftah

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنْ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ يَعْنِي مَوَاضِعَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ وَيُثْنِي عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَر…

“Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudlu’ yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca AL Qur’an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar,.. (abu dawud)

Ada beberapa macam doa iftitah yang di ajarkanRosulullah saw. diantaranya: Read the rest of this entry »

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 07/10/2011 in shalat

 

Tags:

Pandangan mata saat shalat

بسم الله الرحمن الرحيم

Pandangan mata saat shalat

  • Larangan memandang ke langit

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ وَأُرَاهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

dari Abu Hurairah, ia berkata; -dan aku melihat bahwa itu adalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – beliau bersabda: “Hendaknya orang-orang itu menghentikan dari mengangkat mata mereka ke langit dalam shalat, atau benar-benar Allah akan menyambar mata mereka.” (ahmad)

أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

bahwa Anas bin Malik menceritakan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa orang-orang itu mengangkat matanya ke langit di dalam shalatnya, ” dan perkataan beliau semakin meninggi hingga beliau mengatakan, “mereka benar-benar berhenti dari itu atau mata mereka akan disambar oleh petir!”(ahmad) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 07/10/2011 in shalat

 

Tags:

Sedekap

بسم الله الرحمن الرحيم

Sedekap ( posisi kedua tangan setelah takbir )

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَاضِعٌ يَدِي الْيُسْرَى عَلَى الْيُمْنَى فَأَخَذَ بِيَدِي الْيُمْنَى فَوَضَعَهَا عَلَى الْيُسْرَى

dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewatiku, sementara aku meletakkan tangan kiri di atas tangan kananku (dalam shalat), maka beliau meraih tangan kananku dan meletakkannya di atas tangan kiriku.” (HR.Ibnu Majah)

عَلْقَمَةُ بْنُ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ

‘Alqomah bin Wa’il dari bapaknya, dia berkata; “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam apabila berdiri untuk shalat beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.” (HR. Nasa’i)

Jumhur ulama menetapkan bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri waktu berdiri dalam shalat  adalah disyariatkan dan dituntut kita berbuat demikian. Diriwayatkan dari Ibnul mundzir dari ibnu zubair, al-hasan al-bashri, an-nakha’I dan beberapa tabi’iin lagi, mereka tidak berbuat demikian. Beliau-beliau ini menurunkan tangannya. Mereka beralasan bahwa meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri berlawanan dengan kekhusyu’an, sedangkan khusyu’ dalam shalat itu dituntut. Dan mereka juga beralasan karena Nabi tidak menerangkan hal itu kepada si musi’ shalat shalat ( hadits tentang rosulullah saw mengajari orang badwi yang tidak bisa melakukan shalat yang benar). Read the rest of this entry »

 
Comments Off on Sedekap

Posted by on 25/09/2011 in shalat

 

Tags:

Takbiratul ihram

بسم الله الرحمن الرحيم

NIAT

Niat adalah wajib. Tidak sah solat tanpa niat. Kewajiban niat adalah berdasarkan sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam; “Sesungguhnya segala amalan bergantung kepada niat. Sesungguhnya bagi setiap diri apa yang diniatkannya”. (Riwayat Imam Muslim dari Saidina ‘Umar–radhiyallahu ‘anhu-)

Namun niat yang diwajibkan ialah di dalam hati. Adapun melafazkan dengan lidah ada ulama berpandangan; bid’ah melafazkannya dengan lidah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- atau para sahabat. Begitupun tidak terdapat dalam hadits musi’ shalat ( hadits tentang rosulullah saw mengajari orang badwi yang tidak bisa melakukan shalat yang benar). Dan juga ditunjang dari beberapa hadits lainnya.  insyaallah pendapat yang lebih mendekati kebenaran.  Wallahu A’lam bishawab

TAKBIRATUL IHRAM

Adapun Tentang takbiratul ihram maka ini adalah termasuk dalam rukun shalat berdasarkan beberapa hadits Nabi saw, antara lain:

  • عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بِالتَّكْبِيرِ وَيَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  وَيَخْتِمُهَا بِالتَّسْلِيم
  • dari Aisyah berkata; “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan bertakbir, membuka bacaan dengan ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN (segala puji bagi Allah tuhan semesta alam), dan menutup shalatnya dengan salam.” )HR.Ahmad )

dari hadits ini dapat dipahami juga bahwasanya Rosulullah saw tidak mengucapkan sepatah kata pun sebelum melakukan shalat, seperti membaca basmalah, atau ta’awudz, atau mu’awwidzatain sebagaimana yang banyak dilakukan orang, dan termasuk tidak juga melafalkan niat. Semua pekerjaan ini adlah bid’ah , para ulama sepakat hal itu tidak ada sandarannya dari kitab dan sunnah, tidak ada satu kabarpun diriwayatkan dari sahabat, tidak pula tabi’in dan bahkan tidak pula imam yang empat. Read the rest of this entry »

 
Comments Off on Takbiratul ihram

Posted by on 23/09/2011 in shalat

 

Tags:

Mukaddimah Gerakan Shalat

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ  ..وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي..

Dari Malik ibn Al-huwairits r.a berkata: bahwa Nabi s.aw bersabda: “..Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat..” ( HR. Ahmad dan Bukhari )

Hadits ini merupakan salah satu dalil bagi kita agar memperbagus shalat kita, suatu ibadah yang agung dalam agama kita. Yang menjadi tolak ukur iman atau kafir , batas dan pembeda kita kaum muslimin dengan orang kafir. Bahkan Rosulullah saw memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang melaksanakan shalat sebagaimana yang beliau lakukan. Rosulullah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلَّاهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Lima shalat yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala, barangsiapa yang membaguskan wudhu` dan shalatnya sesuai dengan waktunya serta menyempurnakan rukuk dan kekhusyu’annya, maka dia berhak mendapatkan janji dari Allah bahwa Dia akan mengampuninya, dan barangsiapa yang tidak melakukannya maka dia tidak memiliki janji atas Allah; Jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuninya, dan jika berkehendak, Dia akan mengadzabnya.”( HR. abu dawud. )

Banyak sekali hadits Nabi saw yang mengajari kita tentang kaifiyah shalat, baik secara umum maupun terperinci sedetail-detailnya. Diantaranya riwayat dari abu humaid dan abu huroiroh yang oleh para ulama dijadikan dalil akan rukun-rukun dan hal yang wajib dalam shalat.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ ح و حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهَذَا حَدِيثُ أَحْمَدَ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ فِي عَشْرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا فَلِمَ فَوَاللَّهِ مَا كُنْتَ بِأَكْثَرِنَا لَهُ تَبَعًا وَلَا أَقْدَمِنَا لَهُ صُحْبَةً قَالَ بَلَى قَالُوا فَاعْرِضْ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَقِرَّ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يَرْكَعُ وَيَضَعُ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَعْتَدِلُ فَلَا يَصُبُّ رَأْسَهُ وَلَا يُقْنِعُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَهْوِي إِلَى الْأَرْضِ فَيُجَافِي يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ وَيَسْجُدُ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا كَبَّرَ عِنْدَ افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ ثُمَّ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي بَقِيَّةِ صَلَاتِهِ حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim Adalah Dlahak bin Makhlad dan telah di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dan ini adalah hadits (riwayat) Ahmad, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Ja’far telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Umar bin ‘Atha` dia berkata; saya mendengar Abu Humaid As Sa’idi berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah Abu Qatadah, Abu Humaid berkata; “Aku lebih mengetahui tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata; “Kenapa demikian, demi Allah, padahal kamu bukanlah orang yang sering menyertai beliau dan bukan pula orang yang paling dahulu menjadi sahabat beliau daripada kami.” Dia berkata; “Ya, benar.” Mereka berkata; “Jika demikian, jelaskanlah.” Abu Humaid berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak memulai shalatnya, beliau mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian beliau bertakbir sehingga semua tulang beliau kembali pada tempat semula dengan lurus, lalu beliau membaca (bacaan shalat) kemudian beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, lalu ruku’ dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut, kemudian meluruskan (punggung dan kepala) tidak menundukkan kepala dan juga tidak menengadah. Setelah itu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua bahu sampai lurus, lalu mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu beliau turun ke lantai, lalu merenggangkan kedua tangannya dari kedua lambungnya, kemudian beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya dan mendudukinya, dengan membuka kedua jari-jari kakinya apabila bersujud, kemudian mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, sehingga tulang beliau kembali ke posisinya, kemudian beliau mengerjakan seperti itu di raka’at yang lain. Apabila beliau berdiri setelah dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, sebagaimana beliau bertakbir ketika memulai shalat, beliau melakukan cara seperti itu pada shalat-shalat yang lain, dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan).” Setelah itu sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmdzi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا عَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

ْ dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki sebuah masjid, lalu seorang laki-laki (badwi) masuk, lalu shalat, kemudian dia datang, lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membalas salamnya seraya berkata, ‘Kembalilah, lalu shalatlah, karena kamu belum shalat. Lalu laki-laki tersebut kembali, lalu shalat sebagaimana sebelumnya dia shalat, kemudian mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu’ kemudian beliau bersabda lagi, ‘Kembalilah dan shalatlah lagi, karena kamu belum shalat’, hingga dia melakukan hal tersebut tiga kali. Lalu badwi tersebut berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.’ Beliau bersabda, ‘Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian ruku’lah hingga bertuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku’) hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga bertuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga bertuma’ninah dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya’. (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits abu humaid diatas banyak sekali dijelaskan pekerjaan Nabi saw  yang tidak terdapat dalam hadits  nabi yang mengajarkan cara shalat kepada orang badwi, maka para ahli fiqih bermufakat menetapkan bahwa: segala yang tidak terdapat dalam ajaran Nabi kepada orang badwi itu, tidak dipandang wajib KECUALI jika ada keterangan nyata yang menunjukkan kepada wajibnya.

Orang arab badwi yang mengerjakan shalat itu ialah khallad ibn raafi’, demikian menurut ibnu Abi Syaibah, dan shalat yang dilakukan itu adalah shalat tahiyyatul masjid menurut pentahqiqan Al Hafizh ibnu Hajar Al Asqalani. Hadits inilah yang menjadi pedoman untuk membahas rukun-rukun shalat, yang insya allah akan kami jelaskan dalam pembahasan-pembahasan akan datang.

Wallahu A’lam bishawab

 
1 Comment

Posted by on 23/09/2011 in Fiqih, shalat

 

Tags: